Detail Kajian Spesies

Home | Detail Kajian
Animalia

Monyet Siteut

Macaca pagensis

Ringkasan

Macaca pagensis merupakan spesies endemik asal Kepulauan Mentawai, dengan distribusi terbatas di Pulau Pagai Utara, Pagai Selatan, Sipora dan Sinakek, di pantai timur Pagai Selatan. Mereka umumnya ditemukan di hutan hujan dataran rendah dan perbukitan yang masih alami, meskipun terkadang menjelajah ke hutan sekunder yang jauh dari hutan primer untuk mencari makan di ladang pertanian (Setiawan 2023 pers. comm). Kehadirannya juga tercatat di hutan rawa gambut Paleonan. Pada tahun 2008, tercatat terdapat 66 kelompok M. pagensis dengan luas area survei sebesar 23,7 km². Berdasarkan data GeoCAT saat ini, spesies ini memiliki luas cakupan wilayah (AOO) yang sangat rendah, kurang dari 12 km². Kepadatan rata-rata kelompok M. pagensis juga lebih rendah dibandingkan M. siberu, yaitu 3,2 kelompok/km². Rata-rata ukuran kelompok spesies ini berkisar antara 5,3 hingga tujuh individu, baik di Pulau Sipora maupun Pulau Pagai.

Citasi

Dev Admin. 2026. Monyet Siteut. Macaca pagensis. Daftar Merah Nasional Jenis Terancam Punah 2026. Diakses 03 June 2026.

CR

Kritis Kepunahan

Waktu Kajian Terakhir

-

Jumlah Individu Dewasa

-

Tren Populasi

Menurun

Habitat & Ekologi

Forest - Subtropical/Tropical Moist Montane

Kingdom

Animalia

Class

Mammalia

Family

Cercopithecidae

Phylum

Chordata

Order

Primates

Genus

Macaca

Informasi Kajian

Kategori & Kriteria IUCN

EX
EW
CR

Kritis Kepunahan

A2acd+4acd

EN
VU
NT
LC
DD

Date Assessed

-

Year Published

-

Versi

-

Detail Kajian

Assessor(s)

  • Dev Admin

Justifikasi (Rationale)

Macaca pagensis memiliki luas sebaran (EOO) dan cakupan wilayah (AOO) yang sangat rendah. Spesies endemik ini hanya ditemukan di Pagai dan Sipora, yang merupakan bagian kecil dari Kepulauan Mentawai. Catatan keberadaan M. pagensis juga sangat sedikit. Di aplikasi sains warga iNaturalist, hanya terdapat dua catatan tentang spesies ini. Selama lebih dari 12 tahun, dari tahun 2000 hingga 2012, habitat primata Sumatra, khususnya M. pagensis, mengalami penurunan lebih dari 12%. Saat ini, diperkirakan hanya 17.569 hektare hutan yang masih utuh yang tersisa di tiga pulau tempat spesies ini ditemukan, yaitu Pagai Utara, Pagai Selatan, dan Sipora (Supriatna et al. 2017). Sayangnya, tidak ada satu pun dari kawasan tersebut yang memiliki status perlindungan resmi. Berdasarkan kajian tersebut, M. pagensis di Indonesia memiliki status yang sama dengan global, yakni Kritis

Persebaran Geografis

Native Range

Negara Distribusi

Indonesia (Extant)

Ekologi dan Habitat

Classification Scheme

Habitat Suitability Major Importance
Forest - Subtropical/Tropical Moist Montane Suitable Major
Forest - Subtropical/Tropical Mangrove Vegetation Above High Tide Level Suitable Major
Forest - Subtropical/Tropical Swamp Suitable Major
Artificial/Aquatic - Seasonally Flooded Agricultural Land Marginal Secondary

Habitat Description

Panjang generasi dihitung berdasarkan rata-rata usia individu mencapai kematangan seksual, yaitu sekitar 3-4,5 tahun, dengan berat rerata 14,5 kg. Betina umumnya melahirkan 13 keturunan selama masa produktif mere ka. Spesies ini dapat hidup hingga 26 tahun di alam liar, namun umumnya individu tetap bereproduksi sepanjang kehidupan dewasanya, yang mempen garuhi estimasi panjang generasi.

Ancaman (Threats)

Belum ada data ancaman terdaftar.

Threats Description

Spesies ini terancam oleh deforestasi yang parah akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit. Selain itu, Macaca pagensis juga diburu untuk konsumsi daging satwa liar (bushmeat) oleh masyarakat lokal. Selain tekanan dari kehilangan habitat dan perburuan, ukuran populasinya yang kecil dan terfragmentasi meningkatkan kerentanan genetik, yang dapat mengurangi ketahanan spesies terhadap perubahan lingkungan dan penyakit (Whittaker 2006)

Populasi

Tren Populasi

Menurun

Jumlah Individu Dewasa

-

Deskripsi Populasi

Populasi M. pagensis terfragmentasi secara signifikan, mayoritasnya dise babkan oleh deforestasi ekstensif dan degradasi habitat pada wilayah jelajah mereka yang terbatas. Hutan-hutan terfragmentasi akibat perambahan dan perluasan wilayah pertanian, sebagian besar di Pulau Pagai bagian utara dan Pulau Sipora (Supriatna et al. 2017)

Pemanfaatan (Use & Trade)

Belum ada data pemanfaatan terdaftar.

Aksi Konservasi

Classification Scheme

Aksi Konservasi
Resource & habitat protection

Conservation Actions Description

Area Penelitian Betumonga di Pulau Pagai Utara terbentang seluas 623 hektare. Pada akhir tahun 1990-an, peneliti Lisa Paciulli mendapatkan perlindungan terbatas untuk kawasan tersebut dan menetapkannya sebagai lokasi penelitian. Namun, status ini hanya memberikan sedikit perlindungan hukum, dan setelah Paciulli meninggalkan Indonesia pada tahun 2002, masyarakat setempat menjual lahan tersebut kepada perusahaan penebangan kayu. Penduduk desa sering memperdagangkan lahan hutan untuk mendapatkan uang dan barang, dan PT Minas Pagai Lumber Corporation, yang mengendalikan konsesi penebangan kayu yang signifikan di pulau tersebut, terus memberikan dampak terhadap upaya konservasi kawasan ini

Daftar Pustaka

Data Eksternal

Belum ada data eksternal (IUCN / GBIF / iNaturalist) terdaftar untuk spesies ini.

Data Sedang Disusun

Informasi detail untuk bagian ini belum tersedia.